<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1138494785916433760</id><updated>2011-04-21T13:17:36.060-07:00</updated><title type='text'>Ismadi Personal Blogspot</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://owentpi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1138494785916433760/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://owentpi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ismadi Ahmad</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_zHKRihHHX-U/R6vLdsfFe7I/AAAAAAAAACQ/9i-T6-ddJ0g/S220/Foto(063).jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1138494785916433760.post-6117518231410932523</id><published>2008-02-07T17:59:00.000-08:00</published><updated>2008-02-07T18:05:13.566-08:00</updated><title type='text'>AYO GABUNG DI ILMU-ILMU SOSIAL</title><content type='html'>KEHIDUPAN bangsa Indonesia dewasa ini tengah menghadapi ancaman serius berkaitan dengan mengerasnya &lt;br /&gt;konflik-konflik dalam masyarakat, baik yang bersifat vertikal maupun horizontal. Konflik-konflik itu pada dasarnya &lt;br /&gt;merupakan produk dari sistem kekuasaan Orde Baru yang militeristik, sentralistik, dominatif, dan hegemonik. Sistem &lt;br /&gt;tersebut telah menumpas kemerdekaan masyarakat untuk mengaktualisasikan dirinya dalam wilayah sosial, ekonomi, &lt;br /&gt;politik, maupun kultural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajemukan bangsa yang seharusnya dapat kondusif bagi pengembangan demokrasi ditenggelamkan oleh ideologi &lt;br /&gt;harmoni sosial yang serba semu, yang tidak lain adalah ideologi keseragaman. Bagi negara kala itu, kemajemukan &lt;br /&gt;dianggap sebagai potensi yang dapat mengganggu stabilitas politik. Karena itu negara perlu menyeragamkan setiap &lt;br /&gt;elemen kemajemukan dalam masyarakat sesuai dengan karsanya, tanpa harus merasa telah mengingkari prinsip dasar &lt;br /&gt;hidup bersama dalam kepelbagaian. Dengan segala kekuasaan yang ada padanya negara tidak segan-segan untuk &lt;br /&gt;menggunakan cara-cara koersif agar masyarakat tunduk pada ideologi negara yang maunya serba seragam, serba &lt;br /&gt;tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan negara yang demikian itu kemudian diapresiasi dan diinternalisasi oleh masyarakat dalam kesadaran sosial &lt;br /&gt;politiknya. Pada gilirannya kesadaran yang bias state itu mengarahkan sikap dan perilaku sosial masyarakat kepada &lt;br /&gt;hal-hal yang bersifat diskriminatif, kekerasan, dan dehumanisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dapat kita saksikan dari kecenderungan xenophobia dalam masyarakat ketika berhadapan dengan elemen-elemen &lt;br /&gt;pluralitas bangsa. Penerimaan mereka terhadap pluralitas kurang lebih sama dan sebangun dengan penerimaan negara &lt;br /&gt;atas fakta sosiologis-kultural itu. Karena itu, subyektivitas masyarakat kian menonjol dan pada gilirannya menafikan &lt;br /&gt;kelompok lain yang dalam alam pikirnya diyakini "berbeda". Dari sinilah konflik-konflik sosial politik memperoleh legitimasi &lt;br /&gt;rasionalnya. Tentu saja untuk hal ini kita patut meletakkan negara sebagai faktor dominan yang telah membentuk pola &lt;br /&gt;pikir dan kesadaran antidemokrasi di kalangan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika negara mengalami defisit otoritas, kesadaran bias state masyarakat semakin menonjol dalam pelbagai pola &lt;br /&gt;perilaku sosial dan politik. Munculnya reformasi telah menyediakan ruang yang lebih lebar bagi artikulasi pendapat dan &lt;br /&gt;kepentingan masyarakat pada umumnya. Masalahnya, artikulasi pendapat dan kepentingan itu masih belum terlepas dari &lt;br /&gt;kesadaran bias state yang mengimplikasikan dehumanisasi. Itulah mengapa kemudian muncul pelbagai bentuk tragedi &lt;br /&gt;kemanusiaan yang amat memilukan seperti kita saksikan dewasa ini di Aceh, Ambon, Sambas, Papua, dan beberapa &lt;br /&gt;daerah lain. Ironisnya lagi, ternyata ada the powerful invisible hand yang turut bermain dalam menciptakan tragedi &lt;br /&gt;kemanusiaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JADI, reformasi yang tengah kita laksanakan sekarang ini harus mampu membongkar aspek struktural dan kultural yang &lt;br /&gt;kedua-duanya saling mempengaruhi kehidupan masyarakat. Kita tidak dapat semata-mata bertumpu kepada aspek &lt;br /&gt;struktural atau sistem kekuasaan yang ada, melainkan harus pula melakukan dislearn atas wacana dan konstruksi &lt;br /&gt;pemikiran masyarakat. Di sini kita sebenarnya berada dalam area dominasi dan hegemoni negara seperti yang &lt;br /&gt;dibeberkan oleh Karl Marx dan Antonio Gramsci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repotnya, apa yang terjadi di Indonesia adalah reformasi, dan bukan revolusi sosial. Gerakan reformasi, karena sifatnya &lt;br /&gt;yang moderat, cenderung berkompromi dengan anasir-anasir lama yang pro-status quo. Ini yang disebut Samuel P &lt;br /&gt;Huntington sebagai konsekuensi reformasi. Sementara revolusi, karena sifatnya yang radikal, bersikap tegas dalam &lt;br /&gt;menghadapi rezim kekuasaan yang lama dan anasir-anasir pro-status quo. Revolusi Bolshevik 1917 di bekas negara Uni &lt;br /&gt;Soviet merupakan contoh dari ketegasan sikap para pemimpin gerakan revolusi terhadap anasir kekuatan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam era pandang revolusioner, struktur kekuasaan harus dibalik sedemikian rupa sehingga diujudkan struktur &lt;br /&gt;kekuasaan yang benar-benar baru. Itulah mengapa kita rasakan perjalanan reformasi bangsa ini terasa menggemaskan &lt;br /&gt;karena lambatnya. Seringkali kita memang tidak begitu sabar untuk menjadi seorang demokrat, namun untuk menjadi &lt;br /&gt;seorang revolusioner sejati kita pun acap tidak punya nyali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan bahwa yang terjadi sekarang ini adalah reformasi menuntut segenap elemen dalam masyarakat untuk &lt;br /&gt;mereposisi gerakannya agar lebih kondusif bagi akselerasi reformasi. Artinya, kita tidak dapat lagi menggunakan wacana &lt;br /&gt;dan metode gerakan sebagaimana dilakukan pada masa kekuasaan Orde Baru. Gerakan sosial apa pun dalam &lt;br /&gt;masyarakat harus mulai menyediakan alternatif-alternatif yang lebih konkret kepada para pengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Karena kekuasaan negara hari ini, meskipun struktur dan sistemnya masih Orde Baru, tetapi di &lt;br /&gt;dalamnya mulai berlangsung dinamika yang lebih baik ke arah demokratisasi. Namun demikian ada dua soal yang harus &lt;br /&gt;secara terus-menerus dipertegas. Pertama, political will dan konsistensi pemerintah baru untuk melaksanakan agenda &lt;br /&gt;reformasi. Kedua, kesediaan masyarakat untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam mempercepat jalannya agenda &lt;br /&gt;reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pengembangan kehidupan bangsa yang humanis, plural dan demokratis, baik pemerintah maupun &lt;br /&gt;masyarakat bertanggung jawab untuk membongkar struktur dan kultur dalam masyarakat yang masih diskriminatif. Kita &lt;br /&gt;tidak boleh lagi menyerahkan segala urusan kepada pemerintah sebagaimana yang sudah-sudah. Karena dengan begitu &lt;br /&gt;kita sebagai warga negara akan semakin kehilangan peran strategis, sementara pemerintah akan semakin dominan. &lt;br /&gt;Inilah momentum yang tepat bagi segenap warga negara Indonesia untuk berpartisipasi semaksimal mungkin dalam &lt;br /&gt;mengarahkan dan mengendalikan proses transisi bangsa dan negara ini menuju demokrasi yang sejati, atau minimal &lt;br /&gt;demokrasi yang stabil (stable democracy).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1138494785916433760-6117518231410932523?l=owentpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://owentpi.blogspot.com/feeds/6117518231410932523/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1138494785916433760&amp;postID=6117518231410932523' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1138494785916433760/posts/default/6117518231410932523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1138494785916433760/posts/default/6117518231410932523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://owentpi.blogspot.com/2008/02/ayo-gabung-di-ilmu-ilmu-sosial.html' title='AYO GABUNG DI ILMU-ILMU SOSIAL'/><author><name>Ismadi Ahmad</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_zHKRihHHX-U/R6vLdsfFe7I/AAAAAAAAACQ/9i-T6-ddJ0g/S220/Foto(063).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1138494785916433760.post-869527914855959910</id><published>2007-11-19T19:19:00.001-08:00</published><updated>2007-11-19T19:19:42.274-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1138494785916433760-869527914855959910?l=owentpi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://owentpi.blogspot.com/feeds/869527914855959910/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1138494785916433760&amp;postID=869527914855959910' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1138494785916433760/posts/default/869527914855959910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1138494785916433760/posts/default/869527914855959910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://owentpi.blogspot.com/2007/11/blog-post.html' title=''/><author><name>Ismadi Ahmad</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp0.blogger.com/_zHKRihHHX-U/R6vLdsfFe7I/AAAAAAAAACQ/9i-T6-ddJ0g/S220/Foto(063).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
